Category : APEC CEO Summit 2013

Home/Archive by Category "APEC CEO Summit 2013"

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia akan Melampaui China

Siapapun pasti sepakat bahwa saat ini China merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat. Namun diperkirakan, Indonesia akan segera mengalahkan China sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat. Berkat fundamental ekonominya yang kuat, Indonesia bisa diperkirakan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat paling tidak pada paruh kedua dekade ini.

Perkiraan itu bukan dibuat oleh sembarang orang. Adalah ekonom AS Nouriel Roubini yang membuat prediksi tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia itu. Perkiraan dari Roubini sangat patut untuk kita cermati karena ia pernah membuat prediksi yang akurat tentang krisis finansial tahun 2008, sehingga dijuliki “Dr. Doom”. Sebelum terjadinya krisis finansial tahun 2008, Roubini sudah mengingatkan tentang bahaya crash pada sistem finansial AS sehingga bisa menyebabkan resesi ekonomi.

Mengapa Roubini begitu optimistis terhadap Indonesia yang kini sedang menghadapi pelemahan ekonomi, kenaikan inflasi, dan defisit neraca berjalan yang semakin besar? Seperti diketahui, Hingga kuartal II tahun 2013, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,8% yang merupakan pertumbuhan ekonomi paling rendah dalam 3 tahun terakhir. Namun pertumbuhan Indonesia itu masih merupakan yang tercepat di antara negara-negara G20 setelah China.

Roubini menilai, dibandingkan dengan China dan India, Indonesia lmemiliki model pertumbuhan ekonomi yang lebih baik karena tidak terlalu bergantung pada ekspor.  Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar masih ditopang oleh konsumsi domestik. Indonesia juga dipandang memiliki pemerintahan yang lebih stabil ketimbang China dan India, dengan struktur demografi yang lebih baik.

Terkait defisit neraca berjalan Indonesia yang saat ini membesar, Peraih gelar PhD di bidang ekonomi internasional dari Universitas Harvard ini menyarankan agar semua pihak melihatnya dari cara yang berbeda. Ia menilai, defisit neraca berjalan Indonesia terjadi karena booming investasi yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkesinambungan di masa depan. Defisit neraca berjalan Indonesia tercatat mencapai US$ 9,8 miliar atau 4,4 persen PDB pada kuartal II tahun 2013.

“Negara-negara seperti India, Brasil, Turki, Afrika Selatan, dan Ukraina (juga mengalami defisit), namun saya tidak akan menempatkan Indonesia pada kelompok ini, meskipun bila Indonesia memiliki sejumlah kelemahan makro finansial,” jelas Roubini da;am pidatonya di acara APEC CEO Summit 2013 yang dilaksanakan pada 6-7 Oktober lalu d Bali.

Meski memuji potensi ekonomi Indonesia, namun Roubini juga memberikan catatan yakni Indonesia harus melakukan serangkaian reformasi ekonomi yang lebih struktural, ketimbang hanya fokus mengatasi guncangan ekonomi yang sifatnya jangka pendek. Dengan reformasi ekonomi yang tepat, Roubini meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia para paruh kedua dekade ini bisa lebih tinggi dari China dan India.

Berkaitan dengan APEC, Roubini menilai kawasan ini lebih siap menghadapi gejolak pasar finansial ketimbang tahun 1997. Kawasan ini sudah ditopang oleh rendahnya tingkat utang, kuatnya cadangan devisa, sistem finansial yang lebih teratur dan kebijakan mata uang yang lebih fleksibel.

Tren Asia Pasifik: Transformasi dan Peluang Bisnis

Saat ini kota-kota besar di tanah air marak dilanda ‘Goyang Caesar’ jenis tarian baru ini pun berhasil mencuri perhatian masyarakat dan menjadi berkah tersendiri bagi mereka yang bergelut di industri entertainment, mulai dari produser acara TV maupun penjual CD bajakan kaki lima. Goyang Ceasar menjadi berkah bagi mereka yang bisa melihat dan memanfaatkan peluang ini.

Begitu pula dengan para pebisnis di berbagai belahan dunia, mereka harus jeli melihat peluang. Para pelaku bisnis harus selalu siap menghadapi proses transformasi di dunia perdagangan internasional, terlebih mereka harus peka menangkap peluang dari proses transformasi.

Salah satu transformasi besar adalah yang sedang terjadi di kawasan Asia Pasifik, yaitu  meningkatnya jumlah penduduk kelas menengah. Golongan ini cenderung menggunakan pendapatannya untuk kegiatan konsumsi, dimana mereka umumnya lebih peduli pada pelayanan kesehatan, pendidikan, penampilan dan kenyamanan yang lebih baik. Hal ini tentunya merupakan peluang baik bagi setiap perusahaan di Asia Pasifik.  Berdasarkan survei yang dilakukan PricewaterhouseCoopers (PwC) terhadap para CEO di kawasan Asia Pacific, 87% mengatakan, konsumen kelas menengah mempengaruhi strategi bisnis mereka.

Dari hasil survei tersebut juga diketahui berbagai strategi yang akan dilakukan perusahaan – perusahaan tersebut, yaitu 24% dari mereka akan mengembangkan produk dan jasa baru, 19% akan melakukan ekspansi jasa ataupun distribusi kapasitas, dan 19% akan mengakuisisi aset atau operasional perusahaan lain. Sisanya akan mengakses dan mengembangkan bakat, ekspansi manufaktur, pengembangan teknologi, menciptakan kerjasama infrastruktur dan mencari akses bahan mentah atau komponen.

Sebagai salah satu ekonomi di kawasan Asia Pasifik, Indonesia memiliki kesempatan besar dalam memanfaatkan momentum ini. Hal ini juga disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pembukaan APEC CEO Summit 2013. “Saat ini, Indonesia telah menjadi negara triliunan dolar dengan kelas menengah yang besar. Demokrasi kita juga berakar kuat dan hal itu membuat Indonesia sebagai tempat yang baik untuk investasi Anda. McKinsey memrediksi peluang bisnis Indonesia akan meningkat menjadi 1,8 triliun dolar AS pada tahun 2030. Peluang bisnisnya sangat beragam mulai dari jasa, pertanian, perikanan, pendidikan, dan infrastruktur.”

Namun begitu banyak pula pekerjaan rumah yang perlu dibenahi oleh Indonesia untuk menarik lebih banak investasi asing, sperti stabilitas keamanan, kejelasan regulasi, infrastruktur yang menunjang, dan kapasitas sumber daya manusia yang memadai. Tanpa dipungkiri dengan banyaknya investasi yang masuk ke Indonesia akan membantu pemerintah dalam membangun berbagai infrastruktur di negara kita, transfer teknologi, penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan perekonomian yang mendukung geliat ekonomi nasional. Sebagai generasi muda, mari melihat secara lebih jeli dan positif, saatnya menilik kembai berbagai potensi diri dan mengembangkannya bersama momentum ini. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Mckinsey, Indonesia akan membutuhkan 113 juta tenaga kerja terdidik dan terlatih di tahun 2030, dimana saat ini kita hanya memiliki kurang dari setengahnya, yaitu 55 juta orang.

Layaknya pedagang kaki lima yang selalu mengikuti trend, Indonesia pun harus inovatif dan kondusif untuk menstimulus investasi dalam negeri.  Bilamana seorang pedagang tetap bersikeras mempromosikan “goyang Inul” di tengah maraknya “goyang caesar”, maka kemungkinan besar konsumen pun akan berpaling darinya. Begitu pun kondisi Indonesia, bila kita tidak memanfaatkan momentum ini dengan baik, maka besar kemungkinannya para investor pun lebih tergiur melirik negara-negara Asia lainnya, seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Thailand.

 

Indonesia, ‘Kuda Hitam’ Investasi di Masa Depan

black horse

 

Sumber-sumber pertumbuhan di Asia Pasifik sudah berubah. Para pebisnis pun melakukan adaptasi. Apa yang berjalan 10 tahun lalu di wilayah ini tidak lagi bekerja dalam beberapa tahun ke depan.  Untuk menentukan peluang bisnis di kawasan Asia Pasifik yang tumbuh pesat, para CEO mungkin merasa kesulitan.

Namun yang pasti, hal pertama yang akan menarik para investor adalah berkembangnya kelas menengah dan juga limpahan sumber daya alam. Pertimbangan lainnya adalah meningkatnya transparansi, populasi kaum muda, upah buruh, rencana infrastruktur dan tentu saja kestabilan politik. Hal-hal tersebut di atas merupakan faktor penting untuk menciptakan ruang pertumbuhan.

Untuk mengetahui negara mana saja yang memenuhi kriteria tersebut di atas sehingga ideal untuk berinvestasi,  PwC melakukan survei terhadap 478 pebisnis yang menjalankan operasionalnya di Asia Pasifik. Mereka diminta pendapatnya tentang negara mana yang akan menjadi ‘kuda hitam’  yakni yang mereka yakini akan mengejutkan karena memberikan peluang lebih besar dari ekspektasi mereka dalam 3-5 tahun ke depan.

Jawabannya cukup mengejutkan karena Indonesia berada di pilihan pertama dengan mendapatkan suara sebesar 19%. Posisi berikutnya adalah Myanmar (11%) dan China (8%). Para eksekutif yang mengikuti survei itu menilai Indonesia akan mengejutkan karena didukung oleh sumber daya yang terlatih, meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis sumber daya, serta konsolidasi demokrasi.

Sementara Myanmar terpilih di posisi kedua karena perekonomiannya akan terbuka secara lebih cepat daripada antisipasi. China di posisi ketiga dengan penilaian pada tingginya produktivitas, biaya produksi yang kompetitif, serta meningkatnya keahlian teknologi.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa mayoritas CEO merasa sangat percaya diri pendapatannya akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, dibandingkan saat ini. Sebanyak 68% CEO meningkatkan investasinya, sementara 26% lainnya mempertahankan investasi dan 3% justru menurunkan investasi.

Dalam APEC CEO Summit 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang telah menyinggung tentang peluang investasi di Indonesia. Dengan kelas menengahnya yang sangat besar dan akar demokrasi yang kuat, Presiden SBY menilai Indonesia adalah tempat investasi yang ideal. McKinsey bahkan memrediksi peluang bisnis di Indonesia akan meningkat menjadi US$ 18 triliun di 2013. Peluang bisnis terbuka mulai dari jasa konsumer, pertanian dan perikanan, industri pendidikan, dan juga infrastruktur.

Tantangan Ekonomi Global Dibahas di APEC CEO Summit 2013

World Leaders

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi telah membuka APEC CEO Summit di Bali pada Minggu, 6 Oktober 2013. Acara yang diikuti oleh sekitar 1.000 CEO dari wilayah Asia Pasifik ini menjadi sebuah momen yang cukup penting bagi dunia usaha.

Dalam pidatonya, Presiden SBY menyatakan bahwa APEC CEO Summit merupakan sebuah kesempatan untuk menunjukkan fenomena pertumbuhan sektor swasta di kawasan Asia Pasifik. Ekspansi bisnis yang cepat telah mengubah total tatanan perekonomian secara lebih baik. Pemerintah masih berperan penting dalam menyusun kebijakan ekonomi. Namun diakui Presiden SBY, tanpa peranan sektor swasta, pemerintah tidak bisa menyediakan lapangan kerja lebih banyak untuk penduduk.

Presiden SBY juga menyampaikan peranan penting APEC dalam tataran perekonomian dunia. Mengutip data dari IMF, pertumbuhan negara-negara APEC diperkirakan mencapai 6,3% pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 6,6% tahun 2014. Angka itu merupakan dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Saat ini, APEC menguasai sekitar 54% PDB dunia dan 44% perdagangan dunia. Perdagangan antara negara-negara APEC juga meningkat hingga 7 kali lipat sejak tahun 1989, mencapai 11 triliun dolar AS tahun 2011. APEC juga mencatat penurunan tarif sehingga memberikan penghematan hingga US$ 59 miliar untuk para pebisnis.

Sesuai dengan tema APEC CEO Summit 2013 yakni ‘Toward Resilience and Growth, Reshaping Priorities for Global Economy’, Presiden SBY menyatakan bahwa hal yang dibahas adalah bagaimana membangun kekuatan. Tujuannya tak lain adalah untuk membuat kawasan Asia Pasifik sebagai episentrum kemajuan ekonomi dunia. Dan untuk itu, Indonesia telah menyusun 3 prioritas APEC tahun ini. Ketiga prioritas itu adalah pencapaian ‘Bogor Goals’, memperjuangkan pertumbuhan berkelanjutan dengan kesetaraan, mendorong konektivitas.

Tak lupa, Presiden SBY menyampaikan juga berbagai perkembangan penting dari perekonomian Indonesia. Presiden mengaku dirinya adalah Chief Salesperson of Indonesia Incorporated. Presiden pun mengundang para investor dan pengusaha untuk berinvestasi di Indonesia.

Selain Presiden SBY, sejumlah pemimpin negara APEC lainnya juga menjadi pembicara antara lain Presiden Korea Selatan Park-Geun-Hye, Perdana Menteri Selandia Baru John Key, Presiden Peru Ollanta Humala, Presiden Filipina Benigno Aquino III, Presiden Chile Sebastian Pinera, PM Singapura Lee Hsien Loong. Termasuk juga sejumlah CEO dari perusahaan-perusahaan besar di Asia Pasifik. Masing-masing menyampaikan berbagai hal yang berkaitan dengan ekonomi, permasalahan dan tantangannya.

Menteri Keuangan Chatib Basri juga menjadi pembicara dalam APEC CEO Summit 2013. Menkeu menjelaskan tentang latar belakang krisis 2008, krisis komoditas dan energi. Saat ini, situasi di AS yang memroduksi shale gas telah mengubah keseimbangn energi, struktur global termasuk juga Indonesia. Indonesia pun kini harus mempersiapkan inovasi, human capital sehingga mulai memberikan insentif agar investari industri lebih didukung R&D menuju technology based economy. Dan hal itu didukung oleh kebijakan makro ekonomi yang bagus.

Insight dari APEC CEO Summit 2013 Hari Ke-2

DA2

Di hari ke 2 APEC CEO Summit 2013 ini diskusi makin menghangat. Sesi pagi diawali dengan topik ‘Connectivity Across The Asia Pacific’. Dan Scott Price, CEO Walmart Asia mengatakan, Infrastruktur menjadi salah satu faktor kunci untuk connectivity. Lalu Scott mengambil contoh, untuk distribusi fresh products di ribuan outlet di negara besar, perlu ditunjang infrastruktur yang bagus. Dan tentu saja, kerjasama dengan sumber daya lokal sangat penting. Karena, “Centralization di industri retail is costly,” kata Scott.

Pada sesi yang sama Tony Fernandes, Group CEO Air Asia menganggap regulasi adalah tantangan terbesar bisnis airline di Asia Pacific. Karena airline adalah highly regulated industry. Menanggapi pertanyaan soal open sky policy, Tony menjawab, “yes, we’re still little bit to go, but we made progress, moving to the right direction.”

Pada sesi selanjutnya, author buku “The Great Convergence” Kishore Mahbubani, optimistis dengan pertumbuhan kawasan Asia Pacific, bahwa dalam 5 tahun ke depan terjadi non western power. ‘It’s the great power.”

Salah satu kuncinya, menurut Mahbubani adalah karena pertumbuhan middle class. “The good time is coming.” Karena itu menurutnya, tantangan APEC adalah meningkatkan global governance bukan global government.

Saat membahas mengenai “The Future of Emerging Markets”, Ruchir Sharma, author ‘Breakout Nations’ mengatakan pertumbuhan Indonesia di masa mendatang akan lebih clear setelah pergantian kepemimpinan.

Karen Agustiawan, CEO Pertamina menyatakan ada 4 fakta tentang Indonesia yang membuat negara ini layak disebut Breakout nations. 1. Indonesia sudah memperbaiki pemerintahnya 2. Pertumbuhan ekonominya yang stabil 3. Sudah terbukti mampu melewati sejumlah tantangan. “Yang ke 4 Indonesia is more resilience,” ungkap Karen.

Sementara Kevin Lu, direktur Asia Pacific MIGA, World Group Bank memprediksi Cina akan menjadi high income country pada 2030.

Presiden Rusia, Vladimir Putin cukup bangga mengatakan, “we’re the largest energy producer.” Karenanya, “we need new global economic co-op based on real growth.”

Menanggapi pertanyaan terkait sustainable environment, Rusia  terus menganalisa apa yang terjadi di real economy, dan menciptakan metode untuk meningkatkan produktifitas, juga untuk mendukung business climate.

Menutup APEC CEO Summit 2013, President China Xi Jinping secara tegas mengatakan: APEC is one big family. Let’s live peacefully and proper together.

Jinping mengusulkan untuk membangun Asian Infrastructure Bank, dan China siap menyokong. “Chinese Business is ready to do business with new and old partner.”

Sampai jumpa di APEC CEO Summit 2014 di China!

Insight dari APEC CEO Summit 2013 Hari Ke-1

day1

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat senang saat membuka APEC CEO Summit 2013. “Saya melihat banyak kalangan muda yang ikut terlibat dalam forum ini,” ungkapnya. Bagi presiden SBY, APEC CEO Summit adalah fenomena pertumbuhan di regional.

Hari ini, di Plenary Room BICC Westin Hotel Nusa Dua berkumpul sekitar 1200 CEO dari 21 negara. Ada 6 sesi yang menghadirkan sejumlah leaders antara lain: PM Singapore-Lee Hsien Loong, Presiden Chile Sebastian Pinera, Menteri Keuangan RI Chatib Basri, Presiden Peru Ollanta Humala, Presiden Philipina Benigno Aquino III, PM New Zealand John Key, Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan.

Dalam paparan yang bertajuk Reshaping Priorities For Global Economy, mengemukakan sejumlah insight dari para pembicara yang hadir.

Dari PM Singapore APEC untuk mendorong sektor swasta meningkatkan performanya. Menurut PM Lee ini, kemakmuran regional tergantung pada 3 hal: Peace, Stability dan Security.

Sementara Menteri Keuangan RI Chatib Basri konsisten mengatakan bahwa Indonesia tak bisa lagi bertumpu pada raw materials industry. ” Garmen Indonesia sulit bersaing dengan Bangladesh,” ujarnya. Karenanya Indonesia harus bisa memulia dengan desain, fashion. “Move from tangible ke Intangible,”tegasnya.

Menutup sesi hari ke satu ini, Presiden Korea, Park Geun-Hye, dalam keynote-nya mengatakan bahwa kunci kemakmuran adalah kreatifitas yang tidak ada batasnya. Kreativitas hanya bisa dibatasi oleh hal-hal yang sifatnya global dan self reliant.

Jika dulu, ekonomi sangat tergantung sumber daya alam. Maka sekarang ekonomi tergantung menggali kreativitas.”Namun kreativitas jangan dibatasi oleh regulasi. Karena itu akan berupa ide-ide baru, maka harus diberi akses ke pendanaan,” jelas Presiden Park.

Yang terakhir, menurut Park, kurikulum pendidikan harus juga diarahkan untuk mengembangkan kreativitas, tidak hanya fokus hal ilmiah.

APEC, Penentu Perdagangan Dunia

Peranan negara-negara anggota Asia Pacific Economic Cooperation (APEC)  dalam menentukan pertumbuhan ekonomi global tidak terbantahkan lagi. Negara-negara APEC, terutama yang memiliki pertumbuhan ekonomi pesat, secara perlahan-lahan mulai mengambil peran yang lebih besar pada perekonomian dunia.

Analisa PwC memperkirakan 15 negara anggota APEC akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dunia dalam satu dekade ke depan. Negara-negara itu adalah China, Vietnam, Indonesia, Thailand, Papua New Guinea, Filipina, Singapura, Malaysia, Peru, Chili, Hong Kong, Korea, Meksiko, Rusia, dan China Taipei.

Pertumbuhan ekonominya yang cepat membuat negara-negara berkembang APEC menjadi sebuah magnet yang mampu menarik investasi sebesar-besarnya. Negara-negara berkembang pesat APEC diperkirakan mampu menarik investasi dibandingkan negara-negara maju APEC. Jika pada tahun 2001 negara-negara berkembang APEC hanya mampu menarik investasi US$ 133,4 miliar, maka pada tahun 2021 diperkirakan naik menjadi US$ 1.166,7 miliar. Bandingkan dengan investasi di negara-negara maju APEC yang pada tahun 2001 mencapai US$ 208,9 miliar, namun pada tahun 2021 diperkirakan hanya mencapai US$ 486,1 miliar.

APEC memang sangat menarik di mata investor. Bagaimana tidak, diperkirakan pada tahun 2030 jumlah penduduk kelas menengahnya diprediksi mencapai 5 kali lipat dari Eropa dan 10 kali lipat dari Amerika Utara. Siapapun tentu tergiur untuk menggarap kelas menengah untuk dijadikan sasaran bagi pangsa pasar produk-produknya.

Tingkat belanja konsumen negara-negara APEC juga diperkirakan mencapai 2 kali lipat pada tahun 2021. Jika pada tahun 2011 belanja konsumen APEC sebesar US$ 22,60 triliun, pada tahun 2021 jumlahnya diperkirakan mencapai US$ 41 triliun. Sepuluh negara APEC yang menjadi pasar utama adalah Amerika Serikat, China, Jepang, Rusia, Kanada, Meksiko, Australia, Indonesia, Korea dan China Taipei.

Para pebisnis pun mengakui bahwa negara-negara anggota APEC sangat patut diperhitungkan. Survei yang dilakukan oleh PwC dalam APEC CEO Summit tahun 2012 menyatakan, sebanyak 85 persen CEO mengakui bahwa APEC berperan lebih besar untuk mendorong perekonomian dunia ketimbang negara-negara non-APEC pada tahun 2020.  Sebanyak 64 persen CEO juga menyatakan bahwa perdagangan bebas di Asia Pasifik merupakan hal penting untuk kesuksesan perusahaannya. Hanya saja, 89 persen CEO menggarisbawahi masalah inkonsistensi peraturan dan standar di APEC yang berpotensi menciptakan hambatan untuk pertumbuhan perusahaannya.

Pekerjaan rumah inilah yang harus diselesaikan negara-negara anggota APEC. Integrasi kawasan harus terus ditingkatkan, sementara hambatan-hambatan perdagangan harus dihilangkan agar APEC semakin diperhitungkan di kancah perekonomian global.

 

Kuliah Umum ABAC di UNPAR: Konsep ABG: Tiga Pilar pembangun Pertumbuhan & Ketahanan Ekonomi ‘Academic, Business & Government’,

Bandung, 30 Agustus 2013 – APEC Business Advisory Council (ABAC), dewan yang mewakili sektor bisnis di Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), hari ini melakukan Kuliah Umum di Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung dengan tajuk “Peran Sektor Swasta dalam Membangun Ekonomi di Kawasan Asia Pasifik”. Dihadiri oleh lebih dari 250 mahasiswa dari berbagai fakultas, jajaran dosen dan staff UNPAR, serta perwakilan mahasiswa dari ITB, UNPAD, dan berbagai universitas lainnya di Bandung. Kuliah Umum disampaikan oleh Astara Lubis – Reseach Director ABAC Indonesia, dibuka oleh Mangadar Situmorang, Ph.D – Dekan FISIP UNPAR dan dimoderatori oleh L. Giandi Kartasasmita, S.IP,MA – dosen pengajar ilmu hubungan internasional UNPAR.

”Kami sangat menyambut baik kehadiran ABAC di kampus UNPAR hari ini dan melakukan sebuah ‘knowledge sharing’ yang sangat bermanfaat bagi civitas akademika kami”, kata Mangadar dalam sambutan pembukaannya. “Sebagai salah satu universitas swasta tertua di Indonesia yang memiliki semboyan Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti – berdasarkan KeTuhanan menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada masyarakat, sejak berdirinya 58 tahun lalu, para lulusan UNPAR telah memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan perekonomian di tingkat nasional.”

“APEC merupakan salah satu isu penting dalam kajian hubungan internasional, sehingga Kuliah Umum tentang APEC dan ABAC ini benar-benar merupakan sebuah pencerahan bagi kami. Hal ini pun sejalan dengan salah satu misi UNPAR untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang relevan bagi pembangunan bangsa, dimana ‘knowledge sharing’ dan dialog yang terjadi hari ini diharapkan akan menjadi awal dari kemitraan antara akademia dan sektor bisnis dalam upaya mendukung tujuan-tujuan APEC”.

Dalam paparannya, Astara menjelaskan kepada civitas akademika UNPAR yang hadir mengenai konteks ekonomi dunia yang terus berubah. Menurutnya, sejak 2010, dunia memasuki era yang disebut “The Great Uncertainty” yang diperkirakan terus berlangsung sampai 2030. Era ini ditandai antara lain dengan harga sumber daya yang tinggi dan fluktuatif,  meningkatnya intervensi pemerintah terhadap pasar dan rendahnya pertumbuhan di negaranegara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) karena faktor demografi dan utang.

Perubahan konteks ekonomi global juga menimbulkan perubahan dinamika perekonomian di kawasan Asia Tenggara. Astara mengatakan, “Kita melihat ada pergeseran konstelasi ekonomi global, dimana Amerika Serikat sebagai mesin pertumbuhan yang kian lemah karena krisis fiskal, krisis Eropa yang berlanjut dan melambatnya tingkat pertumbuhan di Cina dan India yang dulu pernah dipandang sebagai jangkar pertumbuhan global. Kini, ASEAN, dengan Indonesia sebagai ekonomi terbesar, telah menunjukkan iklim yang lebih kuat dan sehat, dan akan menjadi sentra pertumbuhan baru di kawasan Asia Pasifik”.

Astara juga berbagi pemikiran terkait korelasi antara peran universitas, bisnis dan pemerintah dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi, yang dikenal dengan konsep „triple helix’, dimana ‘Academic, Business & Government’ (ABG) memiliki hubungan saling membutuhkan dalam membangun pertumbuhan dan ketahanan ekonomi. “Dalam konsep ‘Academic, Business & Government’, Industri berperan sebagai rumah produksi, sementara Pemerintah adalah sumber hubungan kontraktual yang memastikan interaksi dan pertukaran yang stabil, dan Universitas sebagai sumber pengetahuan dan teknologi baru”, ujar Astara. “Sinergi dari ketiga sektor ini merupakan prinsip generatif dalam membangun ekonomi yang berbasis pengetahuan, yang memungkinkan tercapainya integrasi ekonomi yang lebih erat di kawasan ini”.

Kuliah Umum di UNPAR hari ini merupakan bagian dari program ‘University Outreach’ yang dilakukan oleh ABAC di universitas-universitas terkemuka di Indonesia, dalam rangka mensosialisakan peran ABAC dan mengajak para akademia lebih terlibat dalam peran Indonesia di APEC. Kesempatan ini juga menjadi ajang bagi ABAC untuk mendorong para mahasiswa dan generasi muda Indonesia untuk menuliskan pemikiran dan ide mereka sehubungan dengan momentum APEC 2013 dalam kompetisi menulis ABAC yang ditutup pada 8 September 2013 mendatang.

“Universitas adalah pencetak pemimpin masa depan. 20 tahun dari sekarang, Indonesia akan menjadi tuan rumah APEC lagi, dan mahasiswa hari ini akan menjadi pemimpin bisnis, emerintahan, pakar dan pemuka di sektor-sektor lain”, tambah Astara. “Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia saat ini berada di pusat ekonomi dunia dan sebuah kekuatan ekonomi yang berbasis pada populasi yang besar dan komposisi demografi yang muda. Demografi yang muda tidak boleh berarti bahwa pemuda-pemudi kita hanya sibuk di dunia social networking. Justru orang muda Indonesia harus menjadi “driver” bagi peningkatan produktivitas nasional, semangat kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan banyak jalan lain yang akan membawa competitive advantage bangsa kita di tataran ekonomi global.”

Astara lebih jauh menyampaikan, bahwa populasi yang besar tidak boleh sebatas diartikan bahwa bangsa kita adalah “pasar” tempat dijualnya barang-barang luar negeri. Justru Indonesia harus menjadi bagian dari mata rantai barang dan jasa yang diperdagangan secara global.

Pada kesempatan ini, ABAC juga mengundang para mahasiswa dalam kompetisi menulis. Astara menegaskan “Penulisan ide mahasiswa dalam kompetisi menulis yang diadakan ABAC menjadi salah satu cara untuk menyalurkan ide mereka bagi bangsa merupakan salah satu titik awal partisipasi generasi muda.” Astara menambahkan, “Lima tulisan terbaik akan dilibatkan  langsung membantu perhelatan besar APEC pada Oktober 2013 mendatang, yang tentunya akan menjadi pengalaman berharga untuk masa depan mereka.”

Kuliah Umum di UNPAR hari ini adalah upaya ABAC untuk membuka pintu dialog dengan generasi muda dalam rangka menggalang aspirasi yang mungkin mereka miliki dan mengajak  mahasiswa untuk membangun minat dan perhatian pada apa yang berlangsung dalam proses-proses APEC dan ABAC.

-selesai-

Tentang ABAC

APEC Business Advisory Council (ABAC) merupakan dewan yang mewakili sektor bisnis di Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), yang anggotanya secara resmi ditunjuk oleh pemimpin pemerintahan dari masing-masing anggota APEC (APEC Economy). Anggota ABAC berperan mengidentifikasi permasalahan dan memberikan rekomendasi yang perlu diprioritaskan di sektor bisnis guna mencapai kebijakan yang lebih efektif dan kerjasama ekonomi yang lebih erat di kawasan Asia Pasifik.

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 79/M Tahun 2012 tanggal 31 Agustus 2012 menetapkan tiga anggota ABAC Indonesia, yaitu Wishnu Wardhana, Group CEO dan President Director PT Indika Energy Tbk; Anindya Bakrie, Chairman PT Bakrie Global Ventura; dan Karen Agustiawan, President Director dan CEO PT Pertamina (Persero), dengan Wishnu Wardhana sebagai Chairman ABAC 2013.

Untuk informasi lengkap tentang ABAC dapat dilihat di www.abaconline.org.

Tentang APEC CEO Summit 2013

APEC CEO Summit adalah sebuah ajang pertemuan bisnis yang menjadi wadah bagi para pemimpin pemerintahan anggota APEC dan para pemimpin opini dunia untuk berbagi informasi dan berdialog dengan para pemimpin bisnis global.

APEC CEO Summit biasanya diselenggarakan sebelum pertemuan tahunan APEC Leaders ‟ Meeting, dan menjadi sebuah contoh upaya APEC dalam mempromosikan dialog dan kerjasama antara sektor pemerintahan dan publik.

APEC CEO Summit 2013 akan diadakan di Bali, Indonesia pada tanggal 5-7 Oktober 2013, dengan mengusung tema “Towards Resilience and Growth: Reshaping for Global Economy”. Fokus utama pembahasan akan berkisar pada berbagai isu prioritas yang dihadapi oleh sektor bisnis untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan yang inklusif bagi semua anggotanya, yang akan dilakukan dalam sebuah diskusi interaktif. Lebih dari 1.000 delegasi bisnis dari seluruh Asia Pasifik direncakan akan hadir dalam ajang pertemuan penting tahun ini, termasuk delegasi senior dari Cina, Amerika Serikat, Jepang, Korea, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Untuk informasi lengkap tentang ABAC dapat dilihat di www.apec2013ceosummit.com.

APEC CEO Summit 2013: Mempersiapkan Asia Pasifik Yang Lebih Tangguh

Pulau Bali pada tanggal 5-7 Oktober 2013 bakal penuh sesak. Para petinggi pemerintahan plus lebih dari 1.000 pemimpin bisnis kawasan Asia Pasifik akan hadir di Pulau Dewata itu. Mereka adalah tamu-tamu yang akan hadir dalam APEC CEO Summit.

Yups, tahun ini Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT APEC 2013. Pada tahun sebelumnya, KTT yang menjadi ajang pertemuan 21 ekonomi ini diadakan Rusia.

Rangkaian APEC Week 2013  merangkum beberapa acara yang salah satunya adalah APEC CEO Summit 2013, sebuah ajang pertemuan  para CEO global Asia Pasifik dengan para pemimpin pemerintahan ekonomi APEC.

Apa bedanya sih dengan KTT APEC? KTT APEC yang disebut dengan APEC Leaders Retreat adalah pertemuan para kepala pemerintahan 21 ekonomi APEC, yang pembicaraannya membahas tentang regulasi dan kebijakan ekonomi kawasan. APEC Leader Retreat sebagai pembicaraan antar pembuat kebijakan diselenggarakan oleh pihak pemerintah. Sedangkan APEC CEO Summit merupakan ajang pertemuan dan dialogue interaktif antara pembuat kebijakan (para APEC Leaders) dengan para pelaku bisnis (Global CEOs di Asia Pasific) yang diselenggarakan oleh APEC Business Advisory Council (ABAC).   ABAC Indonesia menjadi pihak paling sibuk untuk penyelenggaraan APEC CEO Summit tahun 2013 ini. Mereka harus memastikan agar acara APEC CEO Summit 2013 berjalan dengan aman dan lancar. Untuk itu, ABAC Indonesia telah memfasilitasi sejumlah pertemuan antara pemerintah dan pebisnis guna mendapatkan berbagai masukan.

Apa sih gunanya pertemuan APEC CEO Summit ini? APEC CEO Summit merupakan platform penting bagi pertumbuhan ekonomi kawasan, karena dengan rekomendasi dan sudut pandang para pelaku bisnis,para pemimpin APEC dapat menghasilkan kebijakan yang tepat guna dan efektif, yang menjadikan Asia Pasifik sebagai stimulus baru bagi perekonomian global. Perkembangan dunia yang sangat cepat harus direspons cepat pula. Dan itulah fungsinya pertemuan kali ini.

APEC CEO Summit 2013 akan dilaksanakan di Bali International Convention Center. APEC CEO Summit 2013 mengambil tema “Towards Resilience and Growth: Reshaping for Global Economy”. Topik yang dibahas akan beraneka ragam, mulai dari infrastruktur, mata rantai pasokan barang dan jasa (global supply chain), UMKM, Wanita dan wirausaha, ketahanan pangan dan ketahanan energi.

Pertemuan APEC dan juga APEC CEO Summit 2013 ini akan menjadi momen penting setelah sekitar 20 tahun lalu Indonesia juga sukses menyelenggarakan pertemuan APEC di Bogor. Dalam pertemuan di Bogor itu, para pemimpin APEC menghasilkan rekomendasi penting terkait perdagangan bebas dan juga investasi. Harapannya adalah Indonesia bisa mengulang kesuksesan pertemuan di Bogor, dengan hasil yang bermanfaat untuk kawasan Asia Pasifik khususnya dan dunia pada umumnya.

www.apec2013ceosummit.com

Mengenal ABAC Lebih Jauh

Jika ditanya mengenai APEC atau Asia Pacific Economic Cooperation, sebagian besar orang mungkin sudah mengetahuinya. APEC merupakan forum kerjasama ekonomi di Asia Pasifik, yang kehadirannya memberikan manfaat penting di berbagai aspek perekonomian kawasan

Namun jika berbicara tentang ABAC, dahi kita pasti mengernyit? Siapa itu ABAC? Apa itu ABAC? Apa kaitannya dengan APEC?

APEC Business Advisory Council (ABAC) merupakan dewan penasihat yang mewakili sektor bisnis kawasan Asia Pasifik, berperan mengidentifikasi permasalahan dan memberikan rekomendasi pada Kepala Pemerintahan angota-anggota APEC (APEC Ekonomi) guna mencapai kebijakan yang lebih efektif dan kerjasama ekonomi yang lebih erat. ABAC Member ditunjuk secara langsung oleh setiap Kepala Pemerintahan 21 ekonomi APEC. ABAC memiliki 63 anggota yang merupakan gabungan dari 3 pemimpin bisnis dari 21 ekonomi APEC.

ABAC-Chief-Editor-Luncheon-C17Z8253

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 79/M Tahun 2012 tanggal 31 Agustus 2012 menetapkan tiga anggota ABAC Indonesia, yaitu Wishnu Wardhana, Group Co-CEO dan Vice President Director PT Indika Energy Tbk; Anindya Bakrie, Chairman PT Bakrie Global Ventura; dan Karen Agustiawan, President Director dan CEO PT Pertamina (Persero), dengan Wishnu Wardhana sebagai Chairman ABAC 2013.

Lantas seberapa penting peran ABAC? ABAC yang sebagian besar anggotanya adalah pelaku bisnis dan pelaksana kebijakan memberikan informasi terkini dan pandangan-pandangan terkait situasi ekonomi yang dihadapi dunia saat ini. Rekomendasi ini sangat penting bagi APEC Leader sebelum membuat suatu kebijakan, agar kebijakan yang dilahirkan memiliki pertimbangan yang padu, mengikuti dinamika perekonomian teraktual dan efektif untuk dilaksanakan.

ABAC menggodok rekomendasinya melalui meeting intensif yang diadakan empat kali dalam setahun,lalu rekomendasi ini disampaikan kepada para kepala pemerintahan anggota APEC dalam forum ABAC Dialogue With Leaders.

Nah, untuk tahun ini Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah APEC Week, yang di dalamnya terdapat berbagai rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi APEC, termasuk pelaksanaan Fourth ABAC Meeting, ABAC Dialogue with Leaders dan APEC CEO Summit 2013.

APEC CEO Summit merupakan forum yang diselenggarakanoleh ABAC dalam mewadahi pertemuan antara global CEO dengan para kepala pemerintahan kawasan Asia Pasifik. Forum ini diharapkan dapat menjadi katalisator kerjasama ekonomi para anggota APEC.